Te(kn)ologi Pembebasan : Gerakan Sosial berbasis Teknologi

Teknologi Informasi dan Perubahan Sosial.

Teknologi saat ini tidak bisa lepas dari keseharian, dari sekedar telpon, mencari berita hingga transaksi lainnya. Jarak seolah bukan menjadi masalah lagi dalam era teknologi ini. Buku catatan harianpun tergantikan dengan blog maupun netbook yang yang senantiasa mengisi tas kita. Akses Internetpun bukan lagi hal yang mahal, karena banyaknya pilihan dan tawaran solusi berinternet dari vendor-vendor yang ada. Dan inilah yang menjadikan kita tak terlepas dari dunia komputer dan juga internet.

Socmed adalah fenomena berikutnya yang menjadikan kita memindahkan lingkungan nyata kita ke dunia maya. Layanan-layanan ini menjadikan kita semakin terhubung dengan kawan-kawan kita baik yang terpisah sekedar antar kamar kos hingga antar benua. Dan informasi bukan menjadi monopoli lagi lingkungan kaum berpunya tetapi telah meluas ke masyarakat ditingkatan bawah, sehingga tidak jarang kita melihat bahwa tukang becak pun sudah terhubung dengan layanan socmed. Sehingga informasi begitu cepat meluas, dari sekedar gosip hingga isu-isu politik. Dan revolusi pun tercipta dan digerakkan dari layanan-layanan socmed ini.

Sebelum era SocMed teknologi internet yang marak adalah email dan milist. Email dan milis ini pula yang telah menyebarkan informasi dan semangat berdemokrasi dimasa orde baru. Pengorganisasian massa, penyebaran informasi dan aksipun marak melalui jejaring email ini. Dan demokrasi ala dunia maya ini begitu meresap mempengaruhi kehidupan nyata. Kemajuan teknologi informasi inilah yang menjadi semangat baru dalam kehidupan modern.

Teknologi dan Moral

Adakah hubungan teknologi dan moral? Dalam perkembangan teknologi informasi kita sering mendengar istilah pembajakan, hacker dan cracker, dan juga HaKI. Indonesai sendiri sudah meratifikasi HaKI ini sejak tahun 2003 dengan munculnya UU HAKI yang mengatur tentang hak milik seseorang dalam berbagai hal dan juga tentang pelanggarannya. Kemudian yang terakhir adalah UU ITE yang mengatur tentang transaksi elektronik. Jika melihat produk undang-undang itu berarti sangat perlu diaturnya tentang kepemilikan (utamanya dalam teknologi informasi dan komputer) dan perilaku-perilaku warga negara.

Pembajakan paling marak di bidang teknologi informasi, semisal pembajakan software komputer. Sebagai tulang punggung teknologi informasi teknologi komputer ini sangat penting. Seperti dalam kasus-kasus diatas yang sangat membutuhkan perangkat keras dan lunak komputer. Berbagai dalih yang seolah membenarkan pembajakan ini adalah bukti pelanggaran hukum dan juga bukti tentang “rendah”nya moral kita. Seolah pembajakan menjadi “jalan hidup” baik itu di lembaga pendidikan maupun lembaga keagamaan, baik itu mahasiswa maupun mereka juru dakwah. Ketergantungan terhadap vendor suatu software yang menjadikan kita membajak tidak bisa menjadi alasan untuk melakukan pembajakan itu, karena bisnis dan mode kapitalisme telah menjembatani dan memenangkan mereka dalam penguasaan modal.

Untuk persoalan pembajakan ini MUI (majelis ulama indonesia) juga pernah mengeluarkan fatwa haram untuk pembajakan. Dari beberapa produk perundangan dan juga fatwa ini sepertinya ini bukan sekedar persoalan hukum semata di indonesia, tetapi masalah moral dan mental. Pada dasarnya teknologi adalah untuk membantu manusia dalam menjalankan pekerjaan-pekerjaannya. Sehingga pada awalnya software komputer adalah “free” (bebas digunakan dan diubah-ubah) seperti seseorang membaca buku dan kemudian mengutipnya untuk di jadikan tulisan di buku lain dengan cukup menyebut sumber buku dan pengarangnya. Ketika kemunculan “propietary software” ini menjadi masalah bagi para hacker yang terbiasa belajar secara langsung dari kode sumber. Seperti halnya Richard Stallman pendiri FSF (Free Software Foundation) yang melihat keganjilan dan ketidakadilan jika sebuah perusahaan telah menutup kode sumber softwarenya, yang tidak memungkinkan lagi hacker untuk belajar dan mengembangkan teknologi itu sesuai kebutuhannya.

Dan sekali lagi masalah moral inilah yang utama. Seorang aktivis Linux di milis menyantumkan sebuah footer ditiap emailnya “jangan bicara moral jika masih menggunakan bajakan”, sebuah sindiran dan juga motivasi untuk meninggalkan bajakan. Teknologi informasi yang diajarkan di sekolah dan kampus semestinya mulai merambah bukan sekedar bagaimana menyiapkan pekerja siap pakai tetapi juga menghasilkan orang-orang yang bermoral dalam teknologi, yaitu dengan tidak memasukkan pembajakan dan “software bajakan” dalam kurikulumnya. Bukan dengan berdalih darurat dan lapangan kerja semata, sehingga tujuan pendidikan bisa tercapai dan kemajuan bangsa yang diidam-idamkan bisa terwujud. Karena pembelajaran menggunakan “software bajakan” secara tidak langsung mengajari untuk membajak. Sehingga bisa dianalogikan bahwa mendidik dengan “barang curian” maka secara tidak langsung mengajari peserta didik untuk “mencuri”. Dan pendidikan akan hancur jika model ini tidak ditinggalkan.

Gerakan Te(kn)ologi Pembebasan

Untuk menjadi revolusioner tak perlu lagi kita belajar tentang ideologi, cukup aktif di socmed dan peka terhadap isu-isu sosial di dalamnya. Sekiranya cukup tepat untuk menggambarkan model gerakan sosial di era teknologi informasi ini. Ketika seorang mengakses Facebook, Twitter atau media lainnya, berarti dia sudah menjadi bagaian masyarakat global, masyarakat dunia maya. Ratusan bahkan ribuan orang bisa mengangkat isu yang sama dan bersama-sama melakukan gerakan keprihatinan yang serentak tanpa harus saling mengenal dan tanpa pimpinan yang terlalu dominan. Demikianlah komunitas-komunitas itu berjalan di jalur Internet.

Bagaimana dengan teknologinya? Komunitas-komunitas Teknologi yang masih berpegang pada idealisme utamanya di komunitas FOSS (Free and Open Source Software) mencoba untuk tetap menjadi tulang punggung perubahan ini. Teknologi Internet adalah sumbangsih besar komunitas ini, sehingga kita menemukan bagaimana webserver bekerja sehingga kita bisa mengakses halaman web, facebook maupun twitter. Demikian juga dengan berkirim email, berkirim file dan juga komunikasi-komunikasi yang membutuhkan jaringan Internet ini. FOSS inilah yang menjadi jembatannya, sehingga kita mengenal Apache, PHP, BIND, TCP/IP dan pernik-pernik lain yang menjadikan kita bisa berkomunikasi melalui Internet ini. Belum lagi dengan sistem operasi komputer yang menjalankan itu, jika semua mengikuti propietary software maka teknologi Internet akan sangat mahal dan tidak setiap orang bisa menggunakannya.

Teknologi Internet adalah teknologi gotong royong yang memungkinkan setiap orang untuk berkolaborasi dan menyumbangkan kemampuannya. Sehingga teknologii ini begitu massif dan meresap ketataran masyarakat tanpa dirasa. Tanpa kita tahu bagaimana mereka bekerja dan berjuang membebaskan teknologi informasi ini. Demikian juga dengan sistem operasi komputer yang digunakan saat ini, kita tidak pernah berpikir bagaimana pembuatannya. GNU/LINUX sebagai contoh, adalah hasil gotong-royong hacker sedunia untuk menghasilkan sistem operasi komputer yang handal dan juga “free” untuk semua orang. Tidak terbayang bagaimana jika Linus Torvalds waktu itu tidak melepasnya ke Internet. Sebuah proyek “main-main” ini dengan bangga di lepas dengan lisensi GPL (GNU General Public Lisence) dan selamanya akan tetap “free”.

Maraknya pembajakan software adalah kebijakan vendor juga untuk membuat ketergantungan. Dengan demikian akan sangat berat bagi pengguna untuk berpindah pada software lain, walaupun dengan embel-embel software ini lebih mudah dan sudah tidak perlu belajar lagi. Demikian juga ketika kebijakan migrasi diterapkan di instansi pemerintah, alasan klasik karena banyak data dan malas untuk belajar adalah yang paling sering diungkapkan. Ketergantungan terhadap vendor suatu software yang berlindung dengan sistem ganda yaitu adanya UU HaKI dan juga pembajakan adalah akal bulus moda kapitalisme, sehingga komodifikasi layanan dan penjualan rente begitu besar dan kebanyakan membuang devisa keluar negeri. Dan negara yang terlalu bergantung pada vendor maka secara langsung akan membuang banyak devisa dan dilain pihak akan memaksa pengguna membeli produk vendor itu (bisa dibayangkan berapa devisa yang akan dibuang dengan adanya kerjasama Kemendiknas dengan Microsoft). Kontra produktifnya adalah akan memaksa peserta didik ataupun lembaga pendidikan yang secara finansial tidak mampu membeli lisensi, untuk melakukan pembajakan.

Sudah saatnya negeri ini beralih ke FOSS untuk mengajarkan kembali etos belajar yang tinggi bukan sekedar alasan-alasan yang diungkapkan. FOSS adalah teknologi pembebasan bagi negeri yang masih berkembang seperti indonesia ini. Mengutip semangat dari tokoh Teologi Pembebasan Gustavo Guttierez yang lebih kurang sebagai berikut “cukup Yesus yang menderita dan menebus dosa dalam penyaliban, tugas kita adalah tidak membiarkan adanya penderitaan lagi bagi ummat”. Dan cukup bagi kita melihat negeri ini dalam kubangan pembajakan dan rendahnya moral, mari kita selamatkan dengan teknologi pembebasan. Sehingga sebagai elemen bangsa yang menjunjung moral, intelektualitas dan juga religiusitas untuk memulai kerja-kerja intelektual ini. Tidak melakukan pembajakan adalah tanggung jawab sebagai akademisi yang berintegritas moral dan juga seorang yang religius. Dan tidak adalagi alasan malas untuk belajar sehingga kerja-kerja pembebasan ini akan semakin terang.

Jika tiap komunitas idealis yang berintegrasi moral dan religius ini mulai tersadarkan akan gerakan teknologi pembebasan, maka indonesia dengan sendirinya lepas dari pembajakan dan juga lepas dari membuang devisa sia-sia. Kita sadari dengan sepenuhnya saja bahwa negeri ini belum dapat membayar lisensi untuk software, sehingga rakyat dan kaum cerdik cendekia bisa bahu-membahu membangun teknologinya sendiri sebagai wujud nasionalisme. Dan jika kesadaran komunitas ini adalah sangat sulit untuk diwujudkan maka sudah saatnya kita menanyakan pada diri sendiri tentang integritas moral, intelektual dan juga religiusitas yang ada dalam diri kita. Kita masuk bagian mana dalam beberapa ranah itu, menjadi pemalas, pembajak, atau menjadi orang yang menafikan religiusitas kita sendiri. Karena pembebasan bukan kerja-kerja individu semata, sudah selayaknya untuk menghimpun yang berserak ini menjadi gerakan massif bukan sekedar kebutuhan akan teknologi murah semata, tetapi sebagai wujud integritas moral intelektual dan religius dalam tiap diri kita. Sebagaimana dalam Teologi Pembebasan yang bersumber pada ajaran moral agama, demikian juga dengan teknologi pembebasan ini bersumber pada moral dan integritas intelektual.

Adi Sucipto
Koordinator TajdidLinux dan Muhammadiyah-IT
*dari blog di tajdidlinux

About Author:

kadang NgeBlog, kadang baca buku, Pengguna linux biasa yang kadang ngajar tentang IT, kadang matematika dan kadang juga tentang web

Leave A Comment