Semiotika dan Desain

Sepertinya tidak nyambung ketika bicara semiotika dengan desain, tetapi inilah sisi praktis dari ilmu yang kadang njlimet. Semiotika adalah cabang ilmu yang mempelajari tentang tanda (sign) dan penggunaannya dalam masyarakat. Desain adalah ilmu untuk merangkai tanda-tanda itu sehingga mempunyai makna. Tanda itu mempunyai petanda dan penanda, penanda adalah segala sesuatu yang kita lihat secara kongkret dari sebuah tanda, dan petanda adalah yang melingkupi dan kadang diluar dari sesuatu itu yang biasanya adalah makna atau konsep dari tanda itu. Sebetulnya menarik, ketika membicarakan sebuah cabang ilmu yang kemudian bisa ditarik dalam ruang-ruang praktis. Sehingga ilmu itu menjadi penting posisinya dalam kehidupan sehari-hari.

Dan inilah yang menarik dari kuliah hari ini πŸ™‚ karena membicarakan desain media visual dari sisi seni, padahal kita tahu biasanya anak teknik itu tahunya menggunakan perangkat desain tetapi tidak untuk filosofi desainnya. Ternyata seni yang lebih filosofis ini menggunakan semiotika, yang jelas-jelas tidak bakal ditemui di perkuliahan teknik. Dulu waktu mengambil mata kuliah filsafat ilmu pengetahuan di teknik elektro UMS (tidak tahu sekarang masih ada atau sudah kena kebijakan konversi) bahwa akar bahasa teknik adalah seni. Sehingga teknik adalah budi daya manusia untuk melakukan sesuatu dengan kemudahan dan keindahan. Kita pun mengenal kenapa Arsitektur masuk dalam bidang teknik, bukan masuk ke bidang yang lain.

Kebiasaan berpikir dengan otak kiri sekarang harus mulai dipadukan lagi dengan otak kanan. Padahal dulu waktu masi di SMA seolah anak yang masuk kelas IPA adalah lebih baik dari kelas IPS, pada sesi ini terbantahkan. Karena dunia saat ini membutuhkan bukan hanya encernya otak semata, tetapi daya khayal yang tinggi juga masuk. Dan kecenderungan ini mulai penulis sadari waktu mengambil kuliah study Islam, yang banyak menggunakan filsafat, sosiologi dan antropologi, yang membutuhkan pikiran yang tak kalah jika kita bicara fisika ataupun matematika. Pendekatan ilmu sosial yang cenderung dieksakkan adalah produk modernisme (Auguste Comte) Β sehingga ketika kita belajar ilmu sosial dijenjang lebih atas kita akan berkenalan dengan objektivitas ilmu. Ternyata pendekatan ini akhirnya lumpuh juga oleh postmodernisme, sehingga ilmu-ilmu seolah kembali bercampur menjaadi satu dan sulit untuk dipisahkan satu dengan yang lain. Sehingga mereka yang belajar programmingpun tak bisa lepas dari ilmu desain.

Nah dari pengantar yang bertele-tele dan tidak jelas tadi maksudnya adalah bahwa ilmu-ilmu sudah bukan saatnya untuk dipisah-pisahkan. Terkesan seperti kembali dalam khasanah ilmu klasik dimana seorang Filosof adalah seorang ahli hukum sekaligus ahli matematika, dan sekaligus seorang seniman. Ekstrimnya begitu, seperti seorang Ar Razy yang ahli fisika optik, ahli hukum dan juga ahli kimia, sehingga keilmuaannya begitu kompleks. Era postmodernisme seperti sekarang inilah kita begitu sulit untuk memisahkan keilmuan yang kita miliki dengan keilmuan lain, karena kebutuhan yang semakin kompleks juga. Sering kita mendengar adanya Tesis, Anti Tesis, dan Sintesis dalam era objektivitas ilmu dan pada saat ini lebih pada sintesislah kita bertemu, bukan saling menjatuhkan antar cabang ilmu tetapi menjadi sintesis dari ilmu-ilmu tersebut.

Postmodernisme telah membawa sebuah era baru dari peradaban ilmu. Ketika pengakuan atas keberagaman telah melahirkan produk-produk baru, seperti halnya distro-distro Linux yang beragam. Dan domain ilmu tertentu tidak bisa menutup diri lagi dengan ideologi maupun pengaruh lainnya seperti halnya dalam pemilihan lisensi sebuah software dengan munculnya GPL, CCBY, dan lisensi terbuka lainnya. Dan programmingpun bukan sekedar milik mereka yang lulusan dari ilmu computer, tetapi dari kelas seni dan desainpun bisa mengeluarkan produk yang begitu hebat, seperti openFrameworksΒ dari mahasiswa Parson School of Design. Dan akhirnya belajar seni adalah bukan semata “tuntutan jiwa” tetapi adalah bagaimana mengolah keseimbangan antara otak kanan dan kiri.

“happy coding and be an artist”

About Author:

kadang NgeBlog, kadang baca buku, Pengguna linux biasa yang kadang ngajar tentang IT, kadang matematika dan kadang juga tentang web

Leave A Comment