Sekedar terlintas

Dulu waktu belajar menulis untuk jurnalistik sering diajarkan untuk menulis tentang khayalan yang terlintas ataupun pengalaman pribadi. Setiap tulisan katanya jangan langsung dibuang jika tidak sesuai dengan yang kita inginkan, tapi ada juga yang mengajari untuk menulis dan kalo tidak selesai langsung dibuang saja. Mungkin pilihan untuk menulis dan membuang tulisan itu sih terserah pada masing-masing individu. Nah untuk menulis juga mesti memperhatikan tema atau topik, semisal menulis untuk koran harian maka memilih tema yang up to date itu penting tetapi juga mesti perhatikan kemungkinan tulisan itu untuk bacaan jangka panjang.

Menulis buku harian sepertinya menjadi sebuah panduan standar untuk belajar menulis 🙂 . Dengan media inilah kita menulis tanpa batas tentang pengalaman pribadi dan juga pandangan-pandangan kita yang kadang sulit untuk diungkapkan ke publik. Dan tidak sedikit buku harian yang akhirnya di publikasikan, seperti ahmad wahib dan GIE yang buku hariannya menjadi buku bacaan wajib para aktivis pergerakan. Demikian juga yang sengaja menulis buku dengan model buku harian seperti “Dari Penjara Ke Penjara” milik tan malaka. Dan pada perkembangannya hal ini tetap dipakai sehingga “blog” pun dapat di bukukan :).

Kembali ke belajar menulis, kadang kita mudah untuk mengungkapkan sesuatu dengan tulisan ringan, kadang juga sajak dan kadang ada juga yang berpuisi. Ini adalah ragam tulisan yang betul-betul menjadi ungkapan hati, karena menulis itu butuh inspirasi dan juga gaya untuk mengungkapkan. Seperti shariati yang banyak menulis tentang politik dan motivasi gerakan revolusi mesir,  di dalam tulisannya ada yang menyarankan untuk tidak menulis puisi atau sajak tetapi beliau membuat sajak yang panjang tentang “Tuhan”. Demikian juga dengan Kuntowijoyo yang banyak membahas tentang ilmu-ilmu sosial, tidak sedikit kita temukan karya sastranya. Atau juga Ahmad Thohari yang terbiasa kita temukan karya sastranya tetapi tidak sedikit juga kita temukan tulisan-tulisan beliau yang menarik dalam genre yang bukan sastra.

Kata seorang temanku yang aktivis teater saat turun aksi bersama, bahwa seorang seniman itu adalah mereka yang tetap sadar untuk menyuarakan kondisi masyarakat di sekitarnya. Sehingga tidak heran dalam genre sastra kita temukan orang-orang yang begitu peduli mengangkat kondisi sosial masyarakat dan mempertaruhkan nyawanya.

Terus kalo di bidang teknologi apa dong??? iya kadang lupa dengan genre yang kita tekuni sendiri :). Apakah anak teknik tidak bisa nulis?? Ataukah hanya nulis di jurnal-jurnal ilmiah saja dengan penelitian-penelitiannya??? sebenarnya banyak juga anak teknik yang menulis bukan sekedar jurnal ilmiah (pembelaan diri). Ok sementara itu dulu untuk memberikan semangat menulis di pagi ini. Menulis ilmiah itu menulis yang indah dan berguna untuk orang lain …. selamat menulis …

About Author:

kadang NgeBlog, kadang baca buku, Pengguna linux biasa yang kadang ngajar tentang IT, kadang matematika dan kadang juga tentang web

Leave A Comment