Segmen pasar media online

image

Lho kenapa kok libur-libur bahas pasar dan media? Iya sekedar ingatan atas catatan obrolan ringan dengan seorang wartawan senior. Beberapa hari yang lalu pas dengan pembukaan Rakernas MPI PP Muhammadiyah di UAD kampus 3, tepatnya hari kamis 5 mei 2016. Setelah sesi pembukaan selesai, tepatnya sih obrolan lepas makan siang, kami maksudnya beberapa peserta saling berkenalan, ada pak edi kus yang konsen dengan TV MU, ada pak Husni yang dekan FKI UMS, dan juga pak zaelani tamaka ketua PRM Bintaro. Keterlibatan obrolan diawali dengan tema konvergensi media yang dibahas oleh pembicara pada rakernas. Media baik online maupun cetak harus mulai melihat pasarnya, bukan sekedar untuk eksis, karena selain sebagai humas dan pusat berita, media wujud dari segmen itu sendiri.
Maraknya muhammadiyah di semua lini membuat media online nya masing-masing sebagai wujud eksistensi kelembagaan juga karena tuntutan untuk bersaing di dunia maya. Tetapi ada beberapa hal yang kadang luput dari perhatian penggagas media online tersebut, yaitu segmen pasarnya. Walaupun itu adalah kerjaan redaktur pelaksana -menurut pak zaelani tamaka- tidak ada salahnya untuk ditentukan saat kita membuat media online tersebut. Media online bukan sekedar untuk gaya atau eksistensi semata, tetapi betul-betul menjadi media berita. Walaupun terkadang media online mengabaikan etika jurnalistik, kata pak zaelani tamaka, yaitu sekedar mengaduk-aduk emosi pembaca dengan judul kontroversial dan tidak cover both stories. Mengejar trafik dan mengena pada segmen pembacanya saja.
Nah kemunculan media online muhammadiyah ini apakah sudah disiapkan untuk menyasar segmen tertentu? Jika segmen bidikan adalah 76 juta pengguna internet di indonesia dan semisal warga muhammadiyah yang menjadi pengguna internet adalah 20% dengan asumsi mereka adalah yg bersekolah di muhammadiyah, maka akan lebih jelas bidikannya. Tetapi jika kita mengabaikan asumsi dasar dan menganggap semua pengguna internet akan mengakses media kita, ini akan menjadi penghambat besar dalam merencanakan segmen pasar, nah untuk kasus ini saya lebih sepakat dengan mas najib burhani yang ingin menyediakan konten informasi tentang muhammadiyah dilaman media semacam wikipedia, karena umur informasinya akan lebih berumur lama dan menjadi referensi bagi yang serius untuk mencari pengetahuan.
Pilihan untuk menjadi media online harusnya tetap pada ranah media center organisasi juga. Pemberitaan dan tanggapan resmi organisasi terhadap suatu permasalahan dapat dijadikan rujukan baik warga maupun mereka yang ingin mengetahui sikap muhammadiyah terhadap isu-isu yang berkembang. Dan segmennya menjadi lebih jelas, warga muhammadiyah dan juga media lain. Tetapi memilih model ini jauh dari trend yang sedang berkembang, dan organisasipun belum siap menjadi media center sehingga kerap gagap jika harus menanggapi isu yang berkembang, mulai dari siapa yang harus membuat pernyataan dan apa yang harus dinyatakan.
Moga pilihan menjadi media online bukan sekedar ikut-ikutan trend mengejar trafik dan meninggalkan peran sebagai media center organisasi. Cyber media bukan berarti sekedar menjadi trendsetter berita tetapi menjadi rujukan yang berpengaruh. Mungkin jika ada kesempatan nulis lagi kita lanjutkan dengan cyber campaign 🙂

About Author:

kadang NgeBlog, kadang baca buku, Pengguna linux biasa yang kadang ngajar tentang IT, kadang matematika dan kadang juga tentang web

Leave A Comment