Pendidikan Islam Berkemajuan 1

Pada hari sabtu tanggal 27 juni 2015 saya diberi kesempatan oleh LPCR untuk mengikuti FGD yang diadakan oleh majelis Dikti PPM di UMY. Pagi itu jam 8 pagi saya sudah keluar dari rumah, tujuan utama adalah mengirim paket berkas milik istri saya untuk PD IAI jawa tengah, jadi rutenya adalah mencari kantor pos ataupun agen paket. Dan akhirnya melaju ke jalan magelang km 12 dekat polres sleman, paketan berkas kelar dikirim. Agenda kedua adalah mencari tukang kunci untuk menggandakan kunci biar ntar bisa berbagi kunci rumah sama istri, tetapi waktu masih terlalu pagi dan tukang kunci belum pada buka. iya dari km 12 ke km 6 balik lagi ke jl dr wahidin langsung arah ke kronggahan ke apotek mandiri tempat istri bekerja, sekedar memberi tahu kalau tukang kunci belum buka dan ninggalin kunci saja. Yups sementara cukuplah untuk basa-basi nulisnya :).

Di Forum FDG ini cukup membingungkan bagiku yang lama tidak pernah hadir di acara-acara muhammadiyah apalagi majelis dikti. Yang jelas grogi dan tidak PeDe soale kalau lihat jadwal yang hadir rektor dan kepala sekolah, panelisnya profesor-profesor. Tapi aku sok cuek ajalah toh ntar juga ketemu teman yang sama-sama bingung dan grogi πŸ™‚ . Acara di selenggarakan di UMY tepatnya di ruang sidang gedung AR Fakhrudin A lt 5.

Forum dibuka pertama dengan sambutan rektor UMY (Prof. Bambang Cipta), beliau membuka dengan pernyataan bahwa menghadapi MEA ini dunia pendidikan, khususnya muhammadiyah, sulit berharap pada pemerintah. Persaingan tingkat asia ini begitu terbuka dan dunia pendidikan belum siap untuk menghadapi kondisi ini. Sehingga muhammadiyah harus memberi solusi untuk pendidikan muhammadiyah ini. Berikutnya adalah pengantar dari ketua majelis dikti (pak chairil), beliau membuka pernyataan bahwa persyarikatan (muhammadiyah) identik dengan pendidikan, karena muhammadiyah sangat banyak AUM bidang pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Tapi beliau juga melontarkan β€œapa ciri khas pendidikan muhammadiyah?”, yang beliau angkat sebagai tema untuk revitalisasi pendidikan muhammadiyah ini. Beliau bercerita tentang peradaban barat yang dibangun dari adanya aufklarung dari dunia pendidikan tinggi (universitas) yang menjadi rujukan bagi perkembangan pendidikan di dunia ini. Sedangkan islam hanya dapat merujuk dari al azhar mesir sebagai representasi peradaban akademik di dunia islam yang bertahan 1000an tahun. Kemudian beliau membandingkan muhammadiyah (kyai dahlan) dapatkah menjadi sumbu peradaban ini. Kyai dahlan sebagai seorang islam moderat yang terbuka dengan banyak pihak dan banyak pemikiran pada saat itu untuk melahirkan sebuah gerakan islam yang modern. Dan pengantar itu ditutup dengan pertanyaan dan juga harapan β€œdapatkah kita membuat buku putih tentang pendidikan muhammadiyah”.

Pak haidar Nasir dalam keynote speech membuka dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik tentang pendidikan muhammadiyah

– apa bedanya pendidikan muhammadiyah dengan negeri dan lembaga islam lainnya?

– apa ciri khas keunggulan dalam hal pengetahuann umum dari pendidikan muhammadiyah?

– Apa ciri khas dalam keagamaannya?

– kenapa kualitas pendidikan muhammadiyah mengalami kemunduran?

Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut ada yang mendasar harus diketahui yaitu apakah pendidikan muhammadiyah, disinilah pak haidar memberikan 3 (tiga) kata sebagai kata kunci pendidikan muhammadiyah yaitu Pendidikan Islam Berkemajuan. Kenapa berkemajuan ini pak haidar membandingkan pola pendidikan tradisional konvensional dan pendidikan modern yang sudah dikembangkan muhammadiyah. Perihal keterbukaan para pendiri muhammadiyah juga kembali dilontarkan dan memunculkan pertanyaan baru terhadap fenomena keberagamaan di Indonesia ini, kenapa kita ada ketakukan terhadap barat??

sementara ini dulu untuk ingatan mengikuti FGD nya, untuk yang lain-lain disambun lagi entar πŸ™‚

About Author:

kadang NgeBlog, kadang baca buku, Pengguna linux biasa yang kadang ngajar tentang IT, kadang matematika dan kadang juga tentang web

Leave A Comment