Pendidikan Ala Pasar

The happy selected people kata GIE pada saat dia diterima di UI waktu itu. Dia merasa menjadi bagian orang yang begitu beruntung bisa mengenyam bangku perkuliahan. Tetapi sekarang menjadi sangat lain dan lebih menjadi berbalik, mengenyam pendidikan adalah bukan sebuah keberuntungan tetapi menjadi sebuah kerugiaan, karena mereka adalah orang yang harus membayar mahal untuk itu. Dan tidak lagi begitu beruntung karena semua orang bersaing untuk itu dengan berani membayar mahal harga pendidikantersebut.
Tetapi adakah pembenaran bahwa pendidikan itu harus dibayar mahal? Bukankah itu sebuah jerat dari kapitalisme neoliberal yang telah masuk dalam relung-relung keIndonesiaan. Dari jaman kolonial Belanda hingga sekarang pendidikan adalah sebuah alat untuk memilah masyarakat, dari kelas priyayi maupun kelas biasa, mereka yang mengenyam pendidikan adalah mereka akan berpindah status atauingin meningkatkan status sosial mereka. Dari sini kitatelah mendapatkan bahwa pendidikan adalah alat stratifikasi sosial bukan menjadi sebuah alat untuk mendidik dan mengembangkan kemampuan nalar dari peserta didik.
Sekolah adalah untuk menjadikan kita mudah diterima kerja bukan untuk meningkatkan pengetahuan. Ini tercermin dari promosi sekolah-sekolah yang sering kita lihat di koran maupun leaflet di jalan-jalan. Seolah materi telah menjadi sebuah tujuan akhir dari menuntut ilmu. Sehingga sekolah yang pada awalnya adalah untuk mengisi waktu luang telah menjadi ruang-ruang yang rigid dan tak lagi mempunyai ruang untuk belajar. Sekolah telah terjejali oleh kurikulum tidak lagi untuk mendidik. Sehingga programnya telah menjadi menyekolahkan masyarakat bukan mendidik masyarakat.
Kompetisi Kompetensi.
Dengan adanya aturan tentang kompetensi dalam kurikulum maka semua sekolah berlomba untuk menjadikan sekolahnya berkompetensi dan pembiayaan menjadi membengkak dan dibebankan pada peserta didik. Dan kompetensi sekolah telah mengesampingkan kompetensi peserta didik dan inilah yang sering dipaksakan. Untuk mengejar kompetensi sekolah maka siswa dipaksa untuk menurut pada moda yang ada dan tunduk seluruhnya pada sistem yang ada.
Demikian sekolah dibangun atas pondasi kompetisi dan tidak lagi mengedepankan arah pendidikan. Dan kita semua menjadi saksi bahwa pendidikan menjadi komoditas yang laik jual. Dan jadilah pasar memasukkan lembaga pendidikan menjadi sesuatu yang dapat di liberalkan dan diatur oleh pasar. Karena bangunan lembaga pendidikan telah memasuki ruang kompetisi yang dibangun oleh pasar negara-negara maju. Dan mulailah negara kita kegerahan padahal kebijakan untuk privatisasi lembaga pendidikan telah diambil.
Pendidikan pra sekolah hingga perguruan tinggi telah memasuki tahapan seperti ini. Kurikulum adalah kurikulum pasar dalam hal ini kurikulum dibuat sesuai dengan standar pasar dan sebagai pemenuhan tenaga kerja di pasar. Dan pola ini mengembalikan kita pada pola pendidikan jaman politik etis Belanda dimana pendidikan kaum pribumi diarahkan kepada pemenuhan tenaga kerja pribumi yang murah. Dan tujuan pendidikan dikesampingkan, hanya karena untuk memenuhi pasar sebagai tempat berkompetisi dalam penyerapan produk pendidikan yang akan menangguk keuntungan materi maka pendidikanpun mempunyai standar harga yang harus dibayar untuk dapat diterima dipasar. Dan pemerintah mulai lepas tangan dengan pembiayaan pendidikan karena pendidikan adalah ruang privat yang harus dipenuhi oleh individu untuk meningkatkan dirinya sendiri dalam hal ini sejalan dengan N Ach(need for achievement) bukan kepentingan negara lagi untuk menanggung kepentingan yang udah sifatnya individualistik. Dan hal inilah yang sejalan dengan anjuran kapitalime neoliberal yang memprivatisasi rakyat dan kalau boleh dikatakan adalah menswastakan rakyat. Sehingga wajar jika kebijakan BHMN dijalankan dan RUU BHP digodok dan selanjutnya dilaksanakan sebagai bentuk pemenuhan atas pra syarat pencairan utang luar negeri dari lembaga donor yang ada.
Dengan adanya kompetisi lembaga pendidikan ini maka pasar semakin leluasa untuk mengarahkan pendidikan ini. Sehingga gengsipun dipertaruhkan dan lembaga pendidikan profit dan mahal menjadi gengsi tersendiri dari penyelenggara pendidikan dan juga peserta didik. Dan lebih lagi pendidikan swasta semakin berorientasi pasar dan menyerahkan dirinya secara total dengan kebijakan pasar. Dan tak urung lembaga pendidikan muhammadiyah.
Berpihak pada rakyat.
Akhirnya muncul pertanyaan ini, mungkinkah ada pendidikan untuk rakyat? Pendidikan yang diselenggarakan oleh negara untuk mencerdaskan rakyatnya. Darimanakah anggaran pendidikan negara ini, dari banyak kasus yang terjadi dana pendidikan belumlah tersalurkan dengan benar untuk rakyat walaupun untuk dana subsidi dampak kenaikan BBM akan diberikan pada bulan-bulan ini tetapi itu masih belum cukup untuk pendidikan anak negeri ini. Seperti halnya kenaikan harga BBM adalah sebuah pukulan bagi rakyat demikian juga anggaran pendidikan adalah suatu yang jauh untuk dapat menjangkau anggaran pendidikan yang dipatok oleh lembaga pendidikan “kompetensi”.
Demikianlah jalinan yang berkelindan dan tak putus dari rantai pasar pendidikan ini. Pendidikan telah menjadi sesuatu yang diselenggarakan atas dasar kemauan pasar semata. Tidak adalagi pemihakan terhadap hak-hak rakyat untuk mendapatkan pendidikan. Kebodohan yang seiring dengan kemiskinan menjadi ruang privat yang harus diusahakan sendiri oleh rakyat. Sehingga antara the have dan the have not disamakan haknya dalam meraih pendidikan. Dan terpaksa simiskin dan bodoh ini menerima kemiskinan dan kebodohan sebagai takdir yang tak akan berubah karena melihat dunia yang serba materi dan hanya dimiliki oleh orang kaya.
Dan akhirnya kita semua dipertanyakan tentang keberagamaan kita oleh surat Al Maun. Pendustakah kita atau beragamakah kita, ketika kita melihat kemiskinan kefakiran dan mereka yang yatim dihardik dan tidak diberikan hak-haknya. Mereka yang secara materi maupun imateri tidak dapat mengusahakan untuk dirinya sendiri, mereka yang terbelenggu dalam kemiskinananya, kebodohannya. Dan inilah tugas kita untuk “memberikan suara pada mereka yang bisu”, menjadi pembebas.
oleh : Adi Sucipto
Pamflet provokasi ini disampaikan dalam studium generalPW IRM Jawa Tengah di Solo 29 juni 2005

About Author:

kadang NgeBlog, kadang baca buku, Pengguna linux biasa yang kadang ngajar tentang IT, kadang matematika dan kadang juga tentang web

Leave A Comment