Pagi Oktober

yups ternyata sudah lama tidak menulis itu artinya banyak mengendapkan isi kepala dan menumpuknya terus menerus hingga tak lagi bisa diingat. Demikianlah walaupun dalam prinsip penyimpanan itu menggunakan FIFO, tapi kadang sebagai manusia tidak gampang untuk melakukannya, tidak tahu kenapa, seperti mentok saja….

Braga Festival
Braga Festival 24 september 2011

iya setelah menikmati braga fest (gak bawa kamera) cuma dapat buku CSD, dan menikmati irama musik latin dan salsa. Di Braga Fest secara kebetulan saja pengin masuk toko buku “DJAWA” eh ternyata koleksi buku lama-lama, kadang sangat lucu kenapa kita kok senang melihat buku walaupun kadang mentok tidak bisa untuk membelinya. Dan memilih buku akhirnya dilakukan dan pilihan jatuh pada CSD, dan menariknya buku ini sudah tidak dibandrol iklan seperti yang pernah aku tulis beberapa tahun lalu disini. Iya itulah kenapa aku tidak membeli CSD pas film GIE di putar, walaupun aku dah membaca penjelasan dari Miles dan Riri Reza di beberapa media dan forum diskusi tentang GIE, cuma tidak rela saja ketika GIE harus di bandrol dengan iklan. Dan setelah beberapa tahun tidak melihat CSD (maklum sudah bukan mahasiswa lagi yang bergelut dengan buku) pada saat itu aku menemukan CSD yang aku inginkan, walaupun didalamnya memuat Miles dan Riri juga beberapa ulasan dari media. Tapi sepertinya GIE hidup lagi, dan sangat cocok dengan indonesia saat ini, ketika demoralisasi penguasa dan juga kemerosotan generasi di tingkatan mahasiswanya. Iya disini bukan untuk kampanye turunkan SBY ataupun ingin provokasi untuk merebut kekuasaan, tapi inilah suara hati. Bahwa kita tetap dan harus mencintai Indonesia, yang terlanjur korup dan terlanjur tidakk punya keberanian di pentas dunia.

Toko Buku Djawa
Toko Buku Djawa

Mungkin dikira usang dan sekedar romantisme, ketika membaca kembali GIE, sosok pemberani yang menyendiri ini. Kalau mahasiswa tidak membaca buku-buku seperti ini sepertinya belum berasa mahasiswa πŸ™‚ (kalo ini jelas provokasi). Dunia mahasiswa itu bukan yang linear dan jadi “anak baik” dan sok pinter Β yang kerjanya cuma depan laptop dan mengerjakan banyak tugas dari dosen (jadi ingat banyak tugas untuk 3 bulan kedepan, dan sangat menumpuk). Masih dari GIE juga ketika menulis happy selected people iya mahasiswa adalah kumpulan terpilih dari beberapa ribu lulusan sekolah menengah dinegeri ini. Dan dalam banyak hal mereka adalah orang-orang yang peduli dengan nasib bangsanya. Dan menjadi mahasiswa berarti menjadi orang terpilih, sebagai cendekia yang harus terbebas dari arus zamannya.

Baca, diskusi dan aksi, sepertinya itulah yang pantas untuk mahasiswa biar tidak sekedar bergelut dengan tugas-tugas kuliah. Biar gak cuma main game pas pulang kost, biar gak cuma nggossip pas kumpul-kumpul, biar lebih peduli kepada rakyat dan bisa menyuarakan bisikan moral kepada penguasa yang korup. ah tapi miris kok, dengar keluhan adik-adik tingkat, mereka sudah tidak lagi suka membaca, apalagi untuk diskusi, terjebak dengan romantisme ala sinetron dan drama-drama di tivi. Seolah jadi mahasiswa itu untuk bersenang-senang dan gonta-ganti pasangan. Sehingga gerakan mahasiswa yang peduli dengan masalah kerakyatan dan kebangsaan

Catatan Seorang Demonstran
Catatan Seorang Demonstran

menjadi usang dan tidak begitu dilirik oleh mahasiswa sekarang ini. udah ah ntar dikira manas-manasi mahasiswa tuk turun aksi jelang reshuffle ini (tapi kalo mahasiswa kok gak panas diomongi gini berarti emang udah gak punya hati dan tidak lagi peduli pada rakyat dan juga berbohong pada hati nuraninya sendiri). happy reading happy writing lets down to the streets

About Author:

kadang NgeBlog, kadang baca buku, Pengguna linux biasa yang kadang ngajar tentang IT, kadang matematika dan kadang juga tentang web

Leave A Comment