Menulis dan Membaca

Menulis adalah suatu aktifitas mengekspresikan diri, yaitu sebuah refleksi diri atas lingkungan dan juga bacaan kita. Berarti dalam hal ini aktivitas menulis tidak bisa lepas dari aktifitas membaca. Seperti sewaktu menjadi mahasiswa di semester awal yang selalu di motivasi untuk membiasakan diri dengan aktivitas 3M (Membaca, Menulis dan Mendiskusikan). Memulai kebiasaan membaca adalah sangat sulit, sehingga banyak trik untuk memulainya. Ada yang menganjurkan dengan membaca yang ringan-ringan, seperti komik, cerpen, ataupun novel. Dan tema bacaan harus semenarik mungkin untuk kita, sehingga kita tidak akan jemu ataupun jenuh untuk membaca. Dulu waktu dirangsang untuk membaca kira-kira mulai usia SD dengan majalah kuncung dan Bobo kalau tidak salah ingat 🙂 setelah itu meningkat mencari bacaan lain kalu tidak salah dulu pernah baca majalah pelajar jawa tengah MOP, kemudian Tempo dan dari sinilah mulai suka membaca biografi tokoh politik, Lee Kwan Yew, Mahathir Mohammad, Aquino, Benazir Butho dan banyak lagi 🙂 tentunya biografi singkat yang ada dimajalah itu saja. Setelah itu baru mengenal buku-buku biografi karena sudah mengenal perpustakaan sekolah.
Menulis makalah pertama kali adalah waktu mimpin diskusi, dan tulisan pertama hanya bersumber pada satu buku yaitu tentang sejarah perkembangan tasauf karya HAMKA (judulnya udah lupa). Mulai mengenal buku-buku bermacam-macam adalah waktu SMA, tulisan Nur Cholis Majid, Jalalludin Rahmat, Amien Rais mulai masuk dalam daftar bacaan 🙂 walaupun belum bisa memahami isi tulisan secara maksimal. Akhirnya banyak buku juga masuk daftar bacaanku, dari motivasi, agama, politik, sastra dan juga filsafat. Sehingga pernah dikamar asramaku yang ada hanya tumpukan buku-buku agama dan politik bukan lagi buku tentang teknik elektro, sampai-sampai sempat ditegur orang tua gara-gara itu (buku-buku teknik tebal, mahal dan kurang menarik, selain LINUX 🙂 ).
Kegiatan menulis kecil-kecilan dimulai sekedar sebagai TOR diskusi dikampus ataupun bikin makalah untuk kuliah studi agama di pondok. Sehingga sempat tertarik juga dengan kegiatan jurnalistik. Dalam sebuah pelatihan jurnalistik memberi tips dan trik menulis yaitu menulislah walaupun sedikit dan jangan dibuang (dulu nulis masih di kertas ma buku harian soale), karena sutau saat tulisan itu akan berguna, demikian tips dari Adde Ma’ruf Wirasenjaya dan kata beliau juga menulis jangan hanya melihat momen sesaat, diusahakan itu yang lebih umum dan lebih mendalam.
Setelah membaca, menulis dan kadang mendiskusikan maka kita bisa tahu seberapa kuat tulisan dan bacaan kita dari tahun ketahun :). Mentor dan sekaligus Ustadzku di pondok waktu itu Master Jin (Mutohharun Jinan) pernah memberi ulasan juga dengan makalah-makalah yang kami tulis dari semester awal hingga beberapa saat sebelum aku dropout dari pondok, bahwa kematangan tulisan dan bacaan itu akan terlihat dari model tulisan di makalah, sehingga kita mesti membandingkan tulisan-tulisan kita sebelumnya.
Kemudian kultur dan lingkungan juga akan mempengaruhi kebiasan membaca dan menulis kita, alhamdulillah saya pernah menikmati lingkungan Pondok Shabran (sering kami menyebut Sorbon –biar mirip di Perancis sebagai rujukan filsafat 🙂 ), dimana kultur membaca ditanamkan dan seolah menjadi kewajiban dan juga dengan menulis (karena tiap santri harus menulis makalah untuk presentasi minimal seminggu sekali dengan rujukan buku minimal 5 buah), sehingga perlombaan membaca buku sering terjadi dan seolah bersaing antar santri.
Iya dan ketika menulis kembali di blog jadi teringat kembali dengan masa-masa itu. Apa yang akan ditulis jika kita tidak pernah membaca :(, yah setelah lepas dari pondok seolah membaca itu menjadi sangat berat dan lebih-lebih untuk menulis. Mungkin sekedar mengisi pagi, ketika dihadapkan pada bacaan yang tidak paham dan sebuah buku tebal yang belum sempat dibaca.
happy reading ….

About Author:

kadang NgeBlog, kadang baca buku, Pengguna linux biasa yang kadang ngajar tentang IT, kadang matematika dan kadang juga tentang web

Leave A Comment