Mengingat Tuhan

Mengingat Tuhan itu melalui ayat-ayatNya (kalo mas Agus dengan Ayat-ayat semesta), nah ayat itu bermacam-macam… dulu pernah belajar tentang kauniyah dan kauliyah (kayaknya banyak yang dah lupa), so kita sebut aja ayat yang ada di Qur’an ma ayat yang ada di sekitar kita gitu biar gampang.

Mengingat Tuhan dari kebaikan-kebaikanNya sangat sulit, karena kita sering menafikan nikmat yang udah kita terima. Dari nikmat yang kita terima kadang kita anggap sebagai pencapaian dari usaha yang telah kita lakukan. Dan untuk mengingat Tuhan dengan nikmat-nikmatNya kita mesti banyakk meluangkan waktu untuk mengingat dan memikirkan ayat-ayat Tuhan yang lain yang biasanya ada di Qur’an, yah kita bisa lihat lah dari ayat-ayat itu misal QS. Ibrahim: 7, QS. Ar Rahman πŸ™‚ cari sendiri ya untuk ayatnya.

Kalo mengingat Tuhan dari “kejelekan” (kadang kita nyebut gitu, maafkan aku Tuhan) misal bencana yang terjadi gitu :). inipun kita masih harus banyak merenung dengan radikal, karena kita kadang menganggap ini adalah mekanisme alam yang terlepas dari tangan Tuhan. Banjir bandang itu karena hutan gundul dan penyerapan air yang sudah tidak mampu lagi untuk diserap. Gempa dan Tsunami itu karena mekanisme alam yang menata kerak-kerak bumi sehingga posisinya mencapai kesetimbangan. Sebagian bencana adalah campur tangan secara langsung dan tak langsung oleh manusia itu sendiri (banjir di indonesia sebagian besar gitu juga ya, dan lumpur Lapindo yang dikategorikan bencana oleh mantan menteri sosial saat itu). Nah kalo udah sampe pada soal ini Tuhan melalui tangan manusia menghukum manusia itu sendiri (maaf disini kalo kita pake metode pembuat jam, Tuhan udah gak berperan, demikian juga jika dikaitkan dengan hukum fisika maupun tentang geologi). Nah manusia sudah menjadi tuhan (dengan “t” kecil tentunya) yang memberikan bencana bagi alam sekitar kita (untuk gempa dan tsunami kita anggap itu sebagai mekanisme alam -sebagai jam yang kadang berdetak dengan kinetiknya- untuk mencapai equilibrium pada posisi tertentu).

Merenungkan Tuhan dengan kebijakan tuhan (dengan “t” kecil tentunya) yang serakah (dalam bahasanya Gandhi ‘alam ini tak akan pernah cukup untuk memenuhi keserakahan manusia’). Hukum-hukum fisika dan ekonomi yang telah menafikan Tuhan, ini adalah buatan tuhan (jangan lupa dengan “t” kecil) Β juga. Nah mulai ketemu deh Tuhan dimana πŸ™‚ karena banyak merenung dengan alam sekitar kita bisa juga nemuin Tuhan lho (dulu pernah baca buku filsafat dari ibnu thufail; ‘hayy bin yaqzan’). Kenapa bencana karena “tuhan” (sekali lagi “t” kecil) bisa diliat di QS. Ar Rum.

Yah mungkin bisa jadi panduan tuk sekedar mengingat Tuhan (dengan “T” besar).

Reference :

Hayy bin Yaqzan Β 
Ibnu Tufail
Deisme
Al Qur’an

About Author:

kadang NgeBlog, kadang baca buku, Pengguna linux biasa yang kadang ngajar tentang IT, kadang matematika dan kadang juga tentang web

Leave A Comment