Gak jadi lewat tol

Pagi itu kami sudah packing dan berkemas rapi untuk mudik, karena biasanya travel jemput lumayan pagi. Tapi pagi itu travel hingga jam 9an belum ngasi kabar mau jemput jam berapa, yah jam 9 lewat seperempat sopir travel nelpon dan nanyain alamat penjemputan sembari meminta maaf karena ada kendala sehingga telat melakukan penjemputan. Akhirnya nunggu hingga jam 11 dan travelpun siap berangkat.
Perjalanan terhitung lancar walaupun diselingi hujan di beberarapa tempat. Jogja hingga sukorejo terlewati dengan baik dalam hitungan waktu yang makin sore. Tiba dipertigaan jalur ternyata pak supir memilih arah weleri karena ternyata ada 2 penumpang yang tujuan weleri. Dan menurutku perjalanan akan makin menyita waktu, tapi prasangka baik harus kita kedepankan bahwa pak supir mungkin mau nyoba TOL weleri pekalongan. Dan weleri pun dah didepan.mata, ketika jalan diatas gundukan tanah merah terlihat, mobilpun melewati kolong TOL. Masuk pantura dan sampailah di perempatan.jalur dan ada gerbang masuk tol tertulis di penunjuk jalan. Mungkin pak sopir akan ambil arah kiri dan masuk tol pikirku, ternyata hanya ujaran “patang puluh ewu mending nggo tuku solar” dan mobilpun melaju lurus. Aku gak tau apa orientasi pilihan politik pak sopir, yah mungkin tidak termakan ujaran pak wali yang menyatakan tentang tol dan pilihan presiden 🙂 .
Ok lagian kenapa pilihan politik dan tol harus dikaitkan ya, padahal pilihan bawa uang lebih kan emang lebih pragmatis dari pilihan calon presiden, setidaknya itulah yang terlintas dikepala saat itu. Iya dan mobilpun melintas jalur pantura yang lumayan lengang kendaraan tak kalah dengan laju kendaraan di tol yang sempat terlihat di samping jalan pantura.
Mendekati tujuan akhir yaitu rumah kedua orang tuaku, mobil mulai pelan dan menyusur perkampungan sambil menurunkan penumpang di depan rumahnya. Paradoks infrastruktur menurutku ketika melintas jalan kampung yang berlobang dan penuh genangan air dibandingkan dengan gundukan tanah merah meninggi yang dilintasi kendaraan yang melaju kencang. Paradoks ketika di pinggir kubangan jalan juga terpasang baliho para caleg dengan senyum lebar. Ya itu nasib warga disekitaran tol, yang mungkin tidak punya tanah lebih yang diganti rugi hingga milyaran seperti tetangga ku pak haji yang tanahnya dilewati proyek tol.
Anak kecil dengan sepeda kegedean yang memilih masuk kubangan jalan sambil tertawa dengan temannya sepulang ngaji sore itu cukup memberikan hiburan, bahwa mereka tetap menikmati “ordo infrastruktur” ini, tak peduli pilihan politik, tak peduli calon presiden dan tak peduli dengan sawah-sawah yang sudah dibayar untuk proyek tol. Karena tol, ganti rugi dan calon presiden adalah urusan orang tua yang tak lagi bisa bertegur sapa dan senyum lebar ketika berbeda pilihan presiden dan beda pilihan caleg. #februarimenulis

About Author:

kadang NgeBlog, kadang baca buku, Pengguna linux biasa yang kadang ngajar tentang IT, kadang matematika dan kadang juga tentang web

Leave A Comment