Biarkan seratus bunga bermekaran

images3

Bulan mei sudah hampir habis, itu yang terpampang dikalender saat ini. Kalau jaman mahasiswa dulu pasti hapal banget dengan tanggal-tanggal dibulan mei ini, mulai dari Student Revolt di Perancis 1968, sampai hari-hari jelang reformasi 1998 di Indonesia. Adakah hubungannya dengan tulisan kali ini, ya mungkin bagi yang dulu sekedar jadi mahasiswa tentu tidak banyak ingatan yang tersisa. Ratusan pamflet dan rilis pastinya menjadi makanan sehari-hari jelang sarapan ataupun jelang turun jalan, untuk mengenang tentang bulan gerakan mahasiswa.

Bacaan menjadi kebutuhan untuk isi otak dan juga bahan untuk bikin pamflet. Menemukan bacaan tentang 20 Mei, bagaimana mahasiswa kedokteran di STOVIA begitu peduli dengan negerinya mendirikan Budi Utomo, sebuah romantisme dan juga menjadi motivasi kenapa kita harus cinta bangsa ini. Rangkaian-rangkaian gerakan yang dimotori mahasiswa dimanapun tetap menarik perhatian. Semisal Student Revolt di Perancis yang dipicu dari hak berkunjung asrama mahasiswa dan mahasiswi, yang dapat ditarik menjadi gerakan anti perang Vietnam dan berujung pada gerakan nasional menentang pemerintahan. Kadang kita menganggap itu klise semata, mahasasiswa yang cenderung hedon menjadi motor gerakan nasional seperti itu.

Mahasiswa dan Buku

Banyak ungkapan diberbagai kampus tentang aktivitas mahasiswa dengan buku ataupun hal lainnya, misal “Buta Pesta” (Buku, Cinta dan Pesta) yang dapat kita ketahui dari bacaan utamanya tentang anak-anak UI, sezamannya Gie. Atau klaim-klaiman anak rohis sejak 1980-an dengan “Bunga Dakwah” (Buku, Ngaji dan Dakwah). Β Dapat kita ambil simpulanlah bahwa aktivitas mahasiswa tidak dapat lepas dari buku, dan juga beberapa aktivitas hedonnya. Aktivitas hedon ataupun tidak, sebenarnya tidak begitu bermasalah, asalkan tetap ada penjaga gawang ideologinya, ya biar gak hippies banget ataupun hedon banget, mungkin bacaan kayak tulisan-tulisan Gie masih relevan untuk mahasiswa yang udah jelang DO ataupun mahasiswa yang baru diterima di kampus.

The happy selected people, kata Gie ketika diterima di UI saat itu. Gambaran kesukacitaan anak SMA yang diterima disebuah kampus simbol intelektualitas. Dan tidak kita nafikan bagaimana Gie dan kelompok penyuka film dan mapala itu beraktivitas, tapi ada satu yang kita cukup banggakan yaitu dia tidak lepas dari buku. Kritis, analitis tidak dapat dibangun dalam waktu yang sebentar, ada proses panjang untuk membangun kritis dan analitis ini. Baca buku itulah penempa dan pembentuk talenta kritis dan analitis, selain banyak diskusi tentunya.

Dibanyak rezim tidak pernah ada ceritanya mereka dapat membendung hobby baca. Jika banyak buku dibakar dan dimusnahkan, itupun tidak akan membendung orang untuk membaca. Belajar dari Revolusi Kebudayaan di China, yang sangat anti dengan mereka yang membaca buku selain aliran komunis. Walapun tuan Mao mengambil filosofi dari Chun Tzu “biarkan seratus bunga mekar dan seratus aliran bersaing suara”, tetapi kebijakan Mao untuk menyingkirkan mereka yang kontra revolusi lihat tulisanΒ KAMPANYE SERATUS BUNGA BERKEMBANG DAN KAMPANYE ANTI KANANΒ atau kalau masih ada buku Zaman Peralihan kumpulan tulisan Gie pada bagian “Sembilan Tahun yang Lalu Mahasiswa-Mahasiwa Universitas Peking Mengamuk (Mei 1957-1966)”.

Gie yang bacaannya luas dan menguasi bahasa asing dapat dengan mudah membaca perkemabangan gerakan mahasiswa universitas peking yang diberangus oleh pemerintahan Mao hanya karena membaca buku-buku diluar ideologi komunis. Tapi gerakan mahasiswa tersebut terlanjur membesar dan membuat gerakan panjang hingga akhirnya muncul isu demokrasi dan lapangan Tianemen yang melindas mahasiswa dengan Tank-tank baja ketika ada unjuk rasa mahasiswa untuk mewujudkan demokrasi di china.

Belajar dari tuan Mao, bahwa pembredelan buku dan menghukum orang-orang yang tidak seideologi adalah pintu adanya gerakan lebih besar dan tidak menutup kemungkinan bagi seseorang untuk tetap membaca. Membaca tidak dapat dihalangi, karena banyak hal yang dapat dibaca dan teknologi sangat memungkinkan untuk aktivitas ini. Jika semua arus informasi ditutup dan ada gerakan pemberangusan buku maka kita tidak dapat membayangkan bagaimana negeri ini akan ketinggalan. Internet sebagai jendela dunia dan menjadikan kita bagian dari global village maka informasi akan dapat kita akses darimana saja. Kebijakan menghalangi untuk akses informasi juga akan bertentangan dengan peraturan sendiri. Membatasi bacaan hanya untuk yang seideologi juga akan menjadikan penasaran terhadap ideologi lain, dan rasa ingin tahu adalah naluri manusia.

Hanya bangsa mongol yang tidak tahu menahu tentang ilmu pengetahuan selain kekuasaan yang membakar semua buku perpustakaan baitul hikmah ketika mereka menaklukan wilayah itu. Dan kita sangat kehilangan terhadap pengetahuan itu setelah beratus tahun kemudian. Dan kebijakan menarik buku (sampe-sampe gramedia juga gak majang buku-buku kiri) adalah sebuah ketidak percayaan diri bangsa ini ketika harus bertemu dengan ideologi lain. Demikian juga dengan Perpustakaan Nasional yang mendukung pemusnahan buku adalah langkah mundur dalam dunia pustaka (ternyata ada dua berita berbeda πŸ™‚ lihat ini dan ini). Dalam khasanah Intelektual Islam ada yang patut ditiru ketika menghadapi perbedaan pandang seperti dicontohkan oleh Al Ghazali dan Ibnu Rusyd, yaitu buku dibalas dengan buku, sehingga tidak sekedar tidak sepakat tetapi ada solusi baru, sehingga tidak ada pembakaran dan pemusnahan buku.

About Author:

kadang NgeBlog, kadang baca buku, Pengguna linux biasa yang kadang ngajar tentang IT, kadang matematika dan kadang juga tentang web

Leave A Comment