IMM dan ingatan kita

Setiap 14 maret kita diajak mengingat kembali jaket merah dengan perisai pena sebagai logonya. Banyak ingatan kita tentang organisasi mahasiswa ini, yang sering kita nisbatkan menjadi bagian gerakan mahasiswa. Hafalan mars dan hymne saya yakin tidak cepat hilang dan tetap bisa kita nyanyikan bersama jika ada kesempatan. Demikian juga dengan jargonnya, walaupun terasa berat tetap ingin kita junjung sebagai kepribadian kita.

Tema berat organisasi ini adalah pada jargon yang dibawa. Mungkin bisa kita ingat lagi kalimat ” Anggun dalam moral, Unggul dalam intelektual” , “ilmu amaliah, amal ilmiah”, dan ada tambahan lagi “Humanitas, Intelektualitas, Religiusitas”, serta “abadi perjuangan” ato sekalian ambil semua lirik di mars dan hymne. Nah berat bangetkan jadi kader IMM yang harus banyak menghafal dan menanamkan semua itu dalam kepribadian.

Pastinya kita malu kalau bercermin pada semua kata itu, tiap hari diucap tapi belum begitu tertancap dalam kepribadian. Menjadi orang yang bermoral sekaligus intelektual, menjadi seorang yang humanis sekaligus religius. Cendekiawan berpribadi seperti apa yang dimaksud, kadang satu demi satu lirik mars dan hymne menjadi pertanyaan filosofis yang akan panjang jika didiskusikan.

Perjalanan dari anggota, menjadi kader seperti rangkaian titik titik yang tersusun menjadi garis. Iya kita tidak dapat berpindah terlalu tergesa dalam jenjang kekaderan. Dari seorang pembaca buku, peresensi dan kadang menjadi pembicara tetapi masih sulit menulis :-). Iya karena titik titik yang kita susun belum rapi dan rapat betul. Sehingga kita masih perlu kantor untuk merapikan titik tersebut. Ya mungkin sapaan para senior immawan immawati yang tiap hari nanya buku apa yang dibaca, sudah berapa halaman baca buku hari ini ato ngenalin judul buku baru. Dan begitulah titik kekaderan dibina hingga kita mencapai batas dianggap bisa untuk dilepas menjadi kader mandiri dalam ruang individuasi.

Banyak baca buku, banyak diskusi dan terlibat secara langsung dengan gerakan adalah hikmah sendiri dalam pencarian kekaderan. Tidak dapat diraih dalam semalam karena butuh proses. Ingatan itu ada dan betul mengalir dalam desiran darah dan nafas. Seorang seniorku sering mengatakan jika dadanya dibelah maka hanya akan ada IMM di dadanya, dan jika darah mengalir ya merah marun dan berisi tulisan IMM … Menarik kan punya senior yang seperti itu immawan dan immawati. Tak perlulah kita berkoar tapi tunjukkan kompetensi kekaderan, karena jaket dan bendera suatu saat harus betul kita tanam di dada dan merahnya harus betul mengalir dalam desiran darah kita. Tak perlu menganggap diri paling unggul karena kekaderan itu tak perlu ditunjukkan dengan bagusnya jaket tapi desiran darah itulah yang utama. Ingatanku tentang ikatan, abadi perjuangan

About Author:

Leave A Comment