WarungMu: voluntarisme dan kedermawanan

Pada pagi itu seperti biasanya hanya membaca percakapan di beberapa grup dan salah satunya adalah grup wiramuda. Ada yang menarik dengan postingan seoarang aktivis filantropi di Lazismu, yang kebetulan dulu pernah saya kenal waktu beliau mengenalkan saya dengan managemen Zyrex dan kebetulan dapat ketemuan dengan direkturnya, iya beliau pak Joko Intarto yang membuat posting tentang WarungMu. Beliau menulis warungMu dengan menarik, saya akui itulah kehebatan copywriting yang mengemas informasi menjadi menarik…

Bukan sekedar menarik, tetapi beliau juga menuliskan tentang latar belakang warungMu tersebut. Iya dan nama orang yang disebut dalam tulisan itupun aku dah gak asing, Reynal Falah mantan ketua Koorkom IMM UMS yang sekarang menjabat sebagai direktur Lazismu kota Surakarta. Ide brilian bagaimana mengemas kedermawanan dan juga kesukarelawanan yang menurutku sudah agak sulit ditemui apalagi terlembagakan.

Akhir-akhir ini sering kita jumpai pemberitaan tentan warung murah yang digagas komunitas-komunitas tertentu yang biasanya dengan embel-embel “khusus dhuafa” atau “khusus Penghapal Quran” atau embel-embel lainnya. Tetapi mengemas atau melembagakan sebuah kedermawanan yang universal ternyata masih jarang. Dan warungmu cukup menyita perhatianku untuk mengikuti postingan dari reynal maupun isnan yang biasanya posting di akun facebook mereka. Β Ketika para dhuafa dapat menikmati secara “murah” atau bahkan “gratis” maka para dermawan dan para relawan membayar lebih untuk menikmati makanan disana atau sekedar untuk ikut menyajikan makanan dan minuman. Menurutku inilah pembeda gerakan ini, tidak menjadikan kedermawanan sebagai subyek semata dan juga tidak menjadikan para “dhuafa” sebagai obyek.

reynal
lazismu solo dan warungmu

Beberapa hari ini sambil memikirkan mau nulis apa tentang warungmu, jadi teringat tentang postingan yang dulu sempat viral yaitu “Kopi untuk Dinding”. Dalam kisah itu kedermawanan tidak perlu dicatatkan cukup menunjuk sebuah bidang tempel, apa yang akan mereka berikan. Dan yang miskin pun tidak perlu meminta cukup menunjuk pada dinding untuk mendapatkan haknya. Nah kedermawanan yang tak perlu ditunjukkan ini cukup menarik sehingga tidak ada kesan siapa yang kaya dan berderma dan siapa yang miskin. Mungkin warungmu ini ingin lebih dari itu, sehingga warung dikelola oleh relawan karena berderma itu (dalam islam) tidak semata harta yang dipunya tetapi juga kemampuan fisik (keluangan waktu dan tenaga) dimana para relawan cukup meluangkan waktunya selama 2 jam peminggu. Dan mereka yang punya kelebihan harta dapat berderma dengan membayar lebih paket makanan yang mereka nikmati. Β Moga makin berkembang warungmu dan makin mudah tergerak jiwa voluntarisme dan kedermawanan kita untuk berbagi pada sesama …

  • Unique Post

About Author:

Leave A Comment