Sentimen dan kampanye media

Ada yang menarik jika membicarakan media di era pilkada apalagi di media. Penggunaan media sosial secara massif untuk kampanye memang sangat menarik, lebih-lebih di indonesia dengan pengguna media sosial terbanyak. Kampanye media tidaklah salah karena itu wujud dari pengenalan kandidat yang sedang berlaga. Tetapi yang menjadi runyam adalah dengan adanya kampanye negatif dan black campaign, yang sering lebih cepat tersebar dan menjadi viral di media sosial.
Sentimen negatif dan positif terhadap kandidat dalam komunikasi politik juga dapat dijadikan sebuah analisa tersendiri. Secara teknologi hal ini sangat memungkinkan, sehingga dalam periode tertentu kita dapat melihat hasil survey tentang tanggapan terhadap kandidat. Kasus yang sering terjadi di indonesia adalah kampanye negatif yang menjadi viral. Tanggapan negatif dan positif ataupun yg moderat terhadap kandidat menjadi rekaman sendiri untuk memilah bagaimana calon pemilih mengenal kandidatnya. Pemetaan ini penting untuk membuat strategi kampanye dan rekruitmen calon pemilih, memastikan siapa memilih siapa sehingga arah kampanye akan lebih jelas sasarannya tidak sekedar gebyah uyah. Tim kampanye saat ini berbekal hasil survey media untuk mengukur progress dari kampanye yang telah dilakukan, so testing the water dan menggulirkan isu baru untuk mengangkat awareness juga menjadi bagian dari strategi kampanye media. Tingkat kesadaran berpolitik di era media digital menjadi syarat awal untuk memulai larut dalam politik media saat ini.
Kepesertaan kita dalam kampanye media harus tetap dalam koridor netiket dan perundangan yang berlaku, seperti halnya UU ITE di Indonesia yang kadang masih seperti pasal karet yang dapat menjerat pelaku media yang dianggap negatif. Menanggapi kampanye media saat ini tidak sekedar like and dislike, tetapi harus dapat membaca dampak yang ditimbulkan sebagai reaksi atas kampanye media tersebut. Kadang kita sebagai orang beragama sekaligus berpendidikan pun masih sering lupa dan tidak sadar akan posisi kampanye media yang massif saat ini, sehingga kita melakukan serangan balik ataupun mendukung sebuah kampanye media secara membabi buta. Dan inilah celah yang dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak untuk menggiring kita pada opini dan juga menyerempet dengan tindakan melanggar undang-undang.
Kembali pada data tentang tingkat awareness pemilih, sentimen negatif dan positif yang saat ini dikumpulkan melalui media sosial sebagai data bahwa pemilih secara sadar sudah mengenal kandidat dan ikut mengkampanyekan kandidat tersebut. Domino efek inilah yang diambil oleh lembaga survey untuk menggambarkan seberapa besar kandidat dikenal oleh calon pemilih. Dengan membuat data sentimen negatif, positif dan netral maka akan didapat gambaran prosentase tingkat keterpilihan seorang kandidat. Kampanye media saat ini adalah untuk menyasar 30% pengguna internet di indonesia, jika 50% tinggal di ibukota maka prestise perebutan kampanye media ini begitu tinggi. Jika pengguna media sosial ini juga ikut berkampanye secara luring ke 2 orang teman maka domino efeknya akan semakin meluas. Yah tulisan ini belum berbasis pada data yang valid tetapi setidaknya menjadikan kita sadar bagaimana berpolitik media dan turut serta dalam kampanye media…

About Author:

Leave A Comment