Muhammadiyah Digital sebuah keniscayaan

Masyarakat digital sebagai keniscayaan dan tidak bisa kita nafikan begitu saja. Kecepatan internet sebagai simbol revolusi informasi telah terasa dengan sengitnya persaingan antar operator internet untuk menjual bandwidth pada konsumennya. Tanpa sengaja kita juga ikut dalam pusaran perang tarif internet ini dan menjadi konsumen yang menikmati persaingan pasar. Dan generasi muda menjadi penikmat aktif layanan internet ini,

Layanan pencarian informasi sangat berperan di era informasi ini, sehingga semua tergantung dengan mesin pencari. Dari pencarian istilah hingga pada pencarian tugas sekolah ataupun kuliah, demikian juga dengan pedoman beragama. Istilah agama dan ajaran agama yang paling marak di internet akan menjadi tren dan banyak dikutip dan dirujuk oleh anak-anak muda.

Intensitas aktifitas penggunaan gadget dan internet sudah lebih dari jam belajar yang digunakan. Rata-rata pengguna internet di indonesia mengakses internet 4 jam 42 menit melalui PC/tablet dan 3 jam 33 menit melalui ponsel1. Dari data wearesocial.com pengguna internet indonesia 79 juta adalah pegguna aktif menggunakan media sosial atau 30% penduduk indonesia aktif di media sosial. Dan 66 juta pengguna diantaranya menggunakan gajet. Sebuah gambaran yang sangat menarik jika kita dapat membaca dari usia penggunanya, sehingga kita dapat memetakan peta jangkauan dakwah digital dan juga target dari dakwah yang dimaksud.

Muhammadiyah Digital

Membawa muhammadiyah kearah digital bukan sekedar menyediakan bahan-bahan ajar muhammadiyah dalam format digital, tetapi membawa muhammadiyah menjadi lebih interaktif di dunia digital. Interaktif yang sudah menjadi ciri dunia digital 2.0 tidak dapat dinafikan. Muhammadiyah harus menyediakan mubaligh mubalighat virtual yang dapat melayani dan menjawab persoalan ummat di dunia digital (virtual). Sehingga akses yang 3 jam lebih ini akan dapat menemukan layanan keummatan muhammadiyah dalam menjawab permasalah sosial secara real-time dan tentunya interaktif.

Berapa puluh ustadz muhammadiyah yang sudah siap dengan model dakwah ini? Berapa banyak laman web yang menyediakan informasi tentang muhammadiyah di dunia digital ini? Pertanyaan-pertanyaan ini akan sering muncul dan sangat memerlukan jawaban. Kemudian apakah fenomena ini sudah menjadi kajian tersendiri bagi pimpinan muhammadiyah disemua tingkatan. Kadang retoris dan juga alibi banyak dikemukakan ketika kita tidak sanggup menjawab fenomena ini. Medan juang anak muda, atau menjadi tanggung jawab personal bagi mubaligh untuk membuat layanan digitalnya.

Ketertinggalan di bidang ICT kadang menjadi alibi yang cukup kuat untuk menjawab persoalan ini. Padahal inilah yang harusnya dipikirkan dan mejadi bekal wajib bagi mubaligh muhammadiyah yang akan memberikan layanan pada ummat. Tantangan digital tidak lagi bisa dihukumi sekedar halal haram, makruh atau mubah, tetapi harus sudah menjadi kebutuhan bersama. Digitalisasi berkas dan arsip muhammadiyah juga belum cukup untuk memberikan layanan pada ummat virtual ini. Karena kebutuhan yang instan dan real-time, ummat butuh pendampingan yang selalu ada.

Aktifnya laman-laman web muhammadiyah baik lembaga atau majelis di pimpinan semua tingkatan serta dari pegiat-pegiat muhammadiyah di luar struktural cukup membanggakan dakwah digital muhammadiyah. Akun-akun di media sosial juga sudah banyak yang aktif tetapi masih kurang interaktif dan belum dapat mempengaruhi arus informasi yang ada. Pilihan-pilihan di dunia digital ini harus diikuti dengan keaktifan dan interaktif sehingga bukan sekedar akun informasi semata. Penjaga akun-akun ini harus cepat tanggap terhadap fenomena sosial yang terjadi, sehingga pengguna internet dapat mencari rujukan yang tepat untuk menghadapi perubahan informasi yang cepat.

Strategi dakwah digital muhammadiyah harus betul-betul dirumuskan, agar tidak sekedar pembatal kewajiban dakwah. Integrasi antara pegiat ICT dan juga mubaligh serta pimpinan adalah keniscayaan. Pimpinan muhammadiyah harus dapat menjadi pengambil kebijakan atas fenomena sosial, para mubaligh dapat mengemasnya dalam bahasa yang mudah untuk ummat dan pegiat ICT membantu penyebaran secara digital di internet. Dan pada situasi ini pimpinan harus melek IT dan dapat bergerak cepat mengorganisasikan struktur, sehingga muhammadiyah selaras dengan cepatnya informasi yang mengalir.

Keniscayaan Digital

Dunia digital hanya mengenal dua kondisi yaitu 0 dan 1. Dalam artian kondisi ada dan tidak ada, sehingga kehadiran muhammadiyah di era informasi digital ini juga harus memenuhi kaidah itu, akankah muhammadiyah eksis atau tidak. Pilihan dakwah juga sudah jelas, jika muhammadiyah juga akan masuk ke wahana yang 30% di dunia virtual, maka sudah menjadi keniscayaan untuk memikirkan gerakan muhammadiyah digital ini. Pangsa pasar dakwah generasi yang tergantung dengan gadjet tidak sekedar hanya memberikan materi secara klasikal di sekolah ataupun majelis-majelis pengajian, tetapi layanan virtual yang senantiasa mudah diakses dan menjawab permasalahan yang ada.

Fenomena dunia digital sudah saatnya menjadi salah satu bahan rujukan dalam mengambil kebijakan oleh pimpinan. Muhammadiyah sudah tidak dapat lagi memisahkan diri dari cepatnya arus informasi, sehingga sudah tidak ada alasan lagi bagi muhammadiyah untuk tidak mempublikasikan segala kegiatan dan amal nyatanya ke dunia maya. Pembenahan infrastruktur dan memulai strategi komunikasi digital dengan mengoptimalkan laman-laman web sebagai corong informasi di dunia digital ini. Dan pekerjaan rumah muhammadiyah adalah menyiapkan tenaga-tenaga yang handal di bidang informasi digital dan juga menyiapkan mubaligh virtual yang akan menemani pengguna internet disetiap waktu. Dan refleksi pimpinan dan juga warga muhammadiyah untuk lebih sadar dengan fenomena di dunia digital ini.

1http://tekno.liputan6.com/read/2435997/3-fakta-mengejutkan-pengguna-internet-di-indonesia

About Author:

2 thoughts on “Muhammadiyah Digital sebuah keniscayaan

Leave A Comment