Menebar kebaikan dan kegembiraan

Mungkin belum ada data yang terukur untuk mengatakan bahwa ummat islam di indonesia ini reaktif terhadap issue kekinian. Sehingga sering yang ditunjukkan untuk melawan issue adalah langsung menunjuk pada hukum halal haram dan ancaman. Dan senjata berikutnya adalah pernyataan bahwa islam adalah mayoritas di negeri ini sebagai unjuk kekuatan yang dapat mengancam pihak lain yang memunculkan issue.
Kadang sikap ini kontraproduktif di era yang katanya demokrasi dan dalam masyarakat informasi. Posisi mayoritas dalam demokrasi adalah mereka yang menguasi, tetapi ketika perilaku mengintimidasi dan mengancam minoritas itu dapat dicap sebagai antidemokrasi. Lebih-lebih di era informasi yang dapat dengan cepat menyebarkan berita sekecil apapun dan menjadi viral, apalagi menyangkut perilaku mayoritas terhadap minoritas. Nah disinilah yang menjadi agak kacau, karena islam mayoritas tetapi kedudukan dipolitik bukan mayoritas, sehingga perilaku ummatnya yang gampang disorot. Perilaku reaktif terhadap kebijakan politik tetapi tidak punya posisi tawar yang kuat dipolitik, reaktif terhadap issue dalam demokrasi yang menjadikannya mudah di cap dengan stigma antidemokrasi, lengkap sudah semua stigma negatif terhadap islam.
Perilaku reaktif ini akhirnya menjadikan kita ummat islam seolah tidak mengedepankan akhlak yang baik, kekuatan otot menjadi utama untuk memadamkan sebuah permasalahan sosial. Padahal terkadang harus menghadapi bagian dari ummat islam sendiri, karena masyarakat kebanyakan adalah beragama islam. Dan panduan yang digunakan adalah tentang menghadapi kejahatan (tahapan tangan,lidah,hati), lagi-lagi pernyataan mayoritas menjadi pembenaran untuk menggunakan tangan, walaupun pada saudara sendiri. Dan lagi-lagi menjadi pisau bermata dua di era informasi ini, stigma kekerasan lebih lekat pada islam.
Kadang kita bingung untuk membela dan memilih untuk berpihak pada yang mana. Padahal jika kita kembali baca pesan-pesan nabi kita, kita dianjurkan untuk mengedepankan akhlak yang baik sebagai bentuk perilaku islam. Dan ketika berdakwah kita juga sudah diberi rujukan bagaimana dakwah islam yang baik dan juga bagaimana jika kita harus berdebat. Mungkin jika kita memulai sesuatu dengan yang baik sesuai anjuran islam maka tak ada lagi stigma-stigma negatif lagi.
Pilihan dakwah kreatif, mengedepankan akhlak dan mengajak pada kebaikan dan memberikan kabar gembira. Kita mesti memilih media untuk mengabarkan kebaikan dan mengabarkan kegembiraan dalam hidup berislam. Ancaman dan perilaku mengedepankan kekerasan harus mulai kita hindari di era informasi ini, karena masyarakat informasi tidak mengenal mayoritas dan minoritas, mereka hanya mengabarkan berita. Semoga dapat menjadi refleksi untuk menggunakan media sebagai bagian dari dakwah yang menggembirakan ….

About Author:

Leave A Comment