Muhammadiyah dan Dakwah Digital

Beberapa kali di SM ada artikel yang membahas dakwah digital muhammadiyah, tapi karena dulu tidak berlangganan jadi lupa pada nomor berapa dan tahun berapa. Pada intinya ide dari artikel itu sudah memberikan gambaran bagaimana muhammadiyah berdakwah diera digital ini. Bukan sekedar mobile application tetapi lebih lagi pada layanan dakwah mobile. Seperti berikutnya yang diterbitkan oleh SM dengan perusahaannya yang bekerjasama dengan salah satu vendor sudah mengeluarkan 1 produk mobile gadget, walaupun baru beberapa aplikasinya yang muhammadiyah banget dan sekedar informasi (static information).

Era dinamis dan digital yang serba cepat menuntut hal lain lagi, yaitu layanan yang dinamis dan menyasar pada kebutuhan dasar penggunanya. Sehingga layanan yang sekedar memberikan info tidak begitu disukai pengguna layanan digital. Fenomena Ojek online adalah jawaban dari kebutuhan metropolitan, bagaimana layanan konvensional dapat terintegrasi dengan mobile dan digital. Dan kebutuhan inilah yang mestinya kita baca dan kemudian dicarikan jawabannya. Sehingga dakwaj digital tidak sekedar memberikan “sampah” di dunia maya, yang akan diabaikan para penggunanya.

Muhammadiyah sudah tidak lagi pada tataran memberikan sekedar informasi tetapi harus sudah pada tahapan layanan dakwahnya. Kebutuhan subjek dakwah saat ini adalah kebutuhan akan informasi cepat yang dapat menjawab persoalan yang dihadapi saat ini. Seperti halnya, sekedar mencari alamat pimpinan muhammadiyah, karena mereka orang yang “nomaden” sehingga ingin bergabung dengan komunitasnya lagi. Ini akan sulit dijawab secara langsung karena data muhammadiyah tentang lokalitas dan kedaerahan sangat sedikit. Kebutuhan akan lokasi kajian, panti asuhan dan juga lembaga zakat, itu menjadi penting pada era seperti saat ini, karena mobilitas anggota dan subjek dakwah sangat tinggi. Jika sekedar mengandalkan data dari NBM (KTAM) belum dapat menjawab hal ini karena kartu itu belum terintegrasi dengan lokasi-lokasi yang ada.

Bayangan dakwah digital harus sudah melampaui sekedar terminologi web 2.0. Dan pada harapannya kita harus memulainya walaupun sudah tertinggal beberapa langkah, setidaknya kita tidak salah langkah karena salah membaca peta … bayangan kami baru sedikit seperti dalam presentasi ini

About Author:

Leave A Comment