Dakwah, pasar dan amal

Catatan kecil penutupan Muhammadiyah Expo 2015.
Tanggal 14 juni 2015 di Jogja City Mall ada hal yang menarik menurutku, ada sebuah pasar di dalam pasar modern 🙂 iya ada stand jualan milik peserta Muhammadiyah Expo diantara stand-stand ber “merk” di mall. Muhammadiyah menarik dakwah yang biasanya dipinggiran dan seolah hanya untuk konsumsi orang-orang yang jauh dari trend budaya modern, ke dalam pusaran pusat konsumerisme dan trend budaya. Dakwah berbaur dengan masyarakat “muda” yang terbiasa bebas dalam pergaulan, etika, dan juga budaya berpakaian. Jadi Muhammadiyah expo ini dakwah langsung yang berhadapan dengan kerisihan kita sehari-hari. Di satu pihak kita melihat banyak warga yang antusias mengikuti acara dipihak yang lain ada yang cuek. Di satu pihak menutup aurat dengan kesungguhan dan dilain pihak begitu bangga dan cuek dengan pakaian terbukanya. Iya itulah realitas pasar modern kita, tempat nongkrong dan juga tempat berekspresi bagi kaum muda.

Dakwah bertemu dengan realitas, sehingga teladan yang baik itu menjadi utama. Dakwah kultural, sebagai jargon yang diangkat muhammadiyah betul-betul harus berhadapan langsung dengan realitas “muda” indonesia saat ini, budaya mall, konsumerisme dan juga “individualisme”. Melihat hal ini sebetulnya butuh kejelian dari juru dakwah, bagaimana mengemas dakwah menjadi hal-hal yang menarik bagi kaum muda. Tidak sekedar bagaimana mengemas acara tetapi juga muatan-muatan dakwah yang begitu mengena, sehingga tidak sekedar membedakan antara yang “islami” dan yang “hedon”.

Realitas pasar menuntut sesuatu serba cepat, murah dan sesuai trend budaya yang ada. Tokoh populer dibidang mode, ataupun selebriti mennjadi daya tarik sendiri di pasar karena merekalah role model dan trendsetter bagi penikmat pasar dan pemodal untuk bermain diruang-ruang itu. Budaya konsumerisme berbagi dengan trendsetter mode, sehingga perebutan pengaruh juru dakwah dan trendsetter ini sangat kentara, masyarakat “muda” khususnya lebih mengikutii trendsetter daripada juru dakwah. Dan kita tidak bisa menyalahkan masyarakat tapi ini menjadi sebuah introspeksi diri kita sebagai bagian dari dakwah. Pilihannya apakah kita tetap bertahan dengan model dakwah kita selama ini atau kita harus mulai memodifikasi alat dakwah kita agar menyentuh masyarakat “muda” ini.

Nah bagaimana untuk menyusun ini semua? Saya masih yakin bahwa kita masih punya banyak energi untuk kita amalkan di medan dakwah. Tidak sekedar kemampuan kita untuk menghafal ayat qur’an dan hadits tapi kemampuan kita secara keilmuan. Sosiologi, Antropologi, Psikologi,Pendidikan, Komunikasi dan bahkan bidang IT dapat kita jadikan sebagai amal dalam perumusan dakwah ini. Karena ilmu itu harus amaliyah dan amal harus ilmiah … selamat berdakwah

About Author:

Leave A Comment