Angkringan

Ya angkringan atau dulu saya sering nyebutnya “hek” dengan hidangan khasnya sego (nasi) kucing, yaitu nasi dengan sedikit bandeng dan sambel. Harganya sangat murah, pernah merasakan dari harga Rp. 300,- Β sampe sekitar Rp. 1.000,- kalo di seputaran solo :). Kalo di bandung dan jakarta sekitar Rp. 2.000,- atau Rp. 2.500,- . Minuman yang khas adalah Jahe anget, Kopi Β dan tentunya Teh panas πŸ™‚ dan ada juga sih jeruk ataupun variasinya semacam Teh Kampul (teh yang dikasi irisan jeruk). Biasanya ada gorengan juga dan karena angkringan ini biasanya pakai anglo jadi bisa menghangatkan gorengan dengan di bakar. Dengan budget minim kita bisa menikmati itu semua, untuk mahasiswa yang uang sakunya minim seperti saya itu menjadi hidangan makan malam yang cukup nikmat, ya dengan Rp. 5.000,- sudah dapat macem-macem waktu itu πŸ™‚ sekarang tidak tahu lagi karena yang jelas dengan adanya kenaikan BBM kita tidak bisa memprediksi lagi harga hidangan murah ini.

Dulu sering juga “ngutang” di angkringan dekat kost, sepertinya anak-anak griyapena mesti ingat kita ngutang ke siapa :D. Ya penjual di angkringan ini kadang sangat akrab dan kita jadi gak risih untuk ngutang jika belum ada kiriman dari ortu :). Sebelum ngomongin tempat ngutang, sepertinya perlu di list lagi nih angkringan yang sering jadi langganan. Di dekat shobron dulu ada angkringan yang jadi langganan kalo pas pulang kuliah malam, tapi lupa namanya nih ntar kalo ada yang ingat bisa ditulis kembali. Di depan kampus UMS ada pak robet (nama panggilannya itu) di pertigaan, mulai hadir abis ashar sekitar jam 4 sore lah, kalo abis rapat di kampus I dan pengin teh panas bisa langsung nongkrong di situ. Dulu depan kampus II, depan F. Ekonomi ada Basuki, jadi kalo keluar dari kampus II misal habis kegiatan dan rapat bisa langsung mampir. Untuk dekat griyapena ada pak Kadir (nih nama aslinya juga gak dapat) karena dekat kost ya jelas dia jadi tukang nanggung makan anak-anak kost :). Di jalan Gatak ada juga sih yang cukup rame dan biasanya nasinya masak sendiri , namanya pak Te (lagi-lagi gak tau nama sebenarnya) ini kalo nyari makan lewat tengah malam biasanya masih. Untuk yang dekat dengan griyapena, alternatif kalo kadir gak jualan ada “hik intel” gak tau sih kok ada nama ini πŸ™‚ kayaknya yang memberi nama seperti kamerad auliayanov dan akmal bisa menjelaskan ini :D.Β 

Angkringan itu adalah tempat ngobrol yang enak, penjualnya biasanya bisa diajak ngobrol juga. Tema obrolan bisa bermacam-macam dari soal ekonomi, politik dan juga klenik apalagi soal yang serem-serem :). So kalo lagi gak ada teman ngobrol di kost bisa langsung nongkrong di angkringan, tinggal nyari saja yang akrab dan bisa duduk lama di situ :D. Kebanyakan penjualnya berlatar belakang petani di klaten, so pada bulan-bulan tertentu mereka tidak jualan karena mereka sibuk tanam padi, so kalo ngobrol dengan mereka soal pertanian bisa, tentang harga pupuk juga bisa, tentang BBM ya tentu saj bisa :). Untuk politik hmmm menarik juga sih ngobrol dengan mereka, karena mereka bertahun-tahun dagang dan sering disinggahi mahasiswa yang diskusi banyak hal, dari politik sampai yang gak jelas. Nah secara pendidikan politik mereka tidak kalah dengan mahasiswa πŸ™‚ apalagi dengan mahasiswa yang cuma Kupu-kupu (Kuliah Pulang – Kuliah Pulang) atau KTP (Kuliah Tidur Pacaran). Terus apa sangkut pautnya dengan kenaikan BBM saat ini?? ya secara garis besar mereka adalah hanya menjualkan (reseller) untuk nasi kucing dan segala jajannya, dan tidak menutup kemungkinan ini akan bertambah mahal dengan adanya kenaikan harga BBM dan juga bahan pokoknya, so mau gak mau mereka akan menjual lebih mahal dari biasanya. Ketika harga di angkringan menjadi lebih mahal dan kadang sama dengan warung biasa maka angkringan akan mulai ditinggalkan karena dengan tarif yang sama tidak bikin kenyang πŸ˜€ sederhananya begitu, kalo pelanggan pada pindah maka penghasilan penjual di angkringan berkurang, padahal mereka menanggung anak istri di kampung. Sementara ini dulu, sebagai penikmat angkringan dan kadang utang di angkringan juga semoga mahasiswa yang berdiskusi diangkringan juga masih sadar bahwa itu adalah asset dari gerakan mahasiswa yang merakyat. Pusat konsolidasi gerakan massa dan juga ruang-ruang diskusi yang murah meriah. Selamat berkonsolidasi selamat berdiskusi ….

About Author:

Leave A Comment